SINOPSIS :
Kalimat pasif bahasa Jepang sering menjadi masalah bagi para pembelajar karena sulit untuk dipahami sehingga menimbulkan kesalahan berbahasa Jepang. Kesalahan ini disebabkan oleh interferensi dari kalimat bahasa Indonesia yang penggunaannya cukup produktif.
Dalam bahasa Jepang, nomina tidak bernyawa tidak dapat digunakan mengisi fungsi subjek secara bebas, melainkan mengharuskan adanya alasan khusus. Masalah ini tidak dapat dijawab oleh pendekatan linguistik formalis, tetapi dapat diselesaikan oleh pendengatan linguistik fungsionalis.
Ada empat hal yang membolehkan nomina tidak bernyawa menjadi subjek kalimat pasif, yang berhubungan dengan jenis perbuatan dan pelaku perbuatan tersebut:
- menimbulkan akibat baik atau buruk pada subjeknya;
- memberikan karakter tertentu kepada subjeknya sehingga menjadi sesuatu yang istimewa;
- verba yang digunakannya bermakna menciptakan, mebuat, atau menghasilkan subjek tersebut;
- pelakunya disamarkan.
Hingga kini, kalimat pasif bahasa Jepang menjadi salah satu materi yang sangat sulit untuk dipahami dan, karena itu, sering menimbulkan kesalahan (goyou) bagi pembelajar bahasa Jepang di Indonesia. Banyak ditemukan kalimat pasif dalam bahasa Jepang yang sebenarnya tidak perlu. Sebabnya, terjadi interferensi dari penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia yang lebih produktif dibandingkan kalimat pasif dalam bahasa Jepang.





